Hal Terbaik Hari Ini

Salam,

Hal baik pertama yang saya lakukan hari ini adalah mengubah layout blog ini menjadi hitam-putih. Mengapa? Seperti biasa, saya tengah dilanda bosan. Menjadi harapan besar, semoga dengan mengubah dalam blog ini, saya bisa bersemangat lagi dalam menulis.

Hal baik kedua yang saya lakukan hari ini adalah membaca semua kenangan yang pernah saya torehkan di blog ini, yang isinya tak lebih adalah titisan dari multiply dahulu kala.

Hal baik ketiga yang saya lakukan hari ini adalah tertawa. Begitu istimewanya sahabat-sahabat terbaik sudi memberikan komentar pada tulisan saya yang ‘tidak karuan’. Ah ya, kalian membahagiakan hati saya. Terima kasih banyak.

Hal baik keempat yang saya lakukan hari ini adalah sadar diri. Setelah membaca dan ‘bersih-bersih’ tulisan selama 3,5 tahun kebelakang, dengan sadarnya saya berasumsi bahwa saya adalah pribadi yang terlalu galau dengan kehidupan.

Hal baik kelima yang saya lakukan hari ini adalah belajar. Inilah hal terbaik yang saya lakukan. Melalui tulisan saya sendiri, saya belajar membangun pribadi dan membangun kehidupan. Tak mudah. Dari keadaan sakit, bertengkar dengan seseorang, sampai patah hati. Saya jadi tahu bagaimana Allah Yang Maha Besar itu menelikung kehidupan saya sebegitu manisnya.

Hingga saya begitu berbahagia, didetik ini..

Tiap kisah kehidupan adalah ujian. Yang terbaik adalah yang kisah yang membahagiakan. Sedang yang terburuk adalah kisah yang menyakitkan. Tetapi disanalah uniknya kehidupan, bisa saja sakit dan pahit yang dirasakan, menjadi madu bagi mereka yang selalu mengambil pembelajaran.

Selamat belajar, semoga mendapatkan hal-hal terbaik di hari ini.

Lewat tengah malam.
Mahia.

Bahagia

Salah satunya, kebahagiaan datang dari kemampuan seseorang untuk mensyukuri apa yang telah menjadi miliknya sekarang.

Jika tak memiliki apapun?

Bahkan kebahagiaan pun akan tetap datang dari ketidakpunyaan.

Rasa memiliki itu penting. Tetapi pada dasarnya, bahagia bukan berasal dari rasa memiliki. Toh pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang tak berpunya. Bahagia datang dari yang bersih, yang terberkati dan yang terberkahi. Asalnya dari sini, dari hati.
Maka bersyukurlah, selagi masih merasa memiliki dan dimiliki. Bersyukurlah. Selagi bisa.

Kelapa Gading.
Milad Mama tercinta.

Dua Kisah XX

dua kisah.

c adalah komponen xx, berkisar 36 < t < 40 tahun. menurut 's', c = sok perfeksionis, sok benar, sok pintar. makanan sehari-hari c adalah marah, dan marah. padahal c cantik apabila c memiliki tabiat yang baik. c sudah menikah, 3 tahun dan masih belum mempunyai anak.

e adalah komponen xx, dan cerewet, sok teliti, sok pintar, sok cantik, kuno = e. e adalah lulusan universitas yang biasa saja + jurusan yang biasa saja, begitu kata 's'. e belum menikah di t yang menginjak 35 tahun. ah ya, konon e percaya dengan hukum karma.

***

persamaan dari c dan e adalah

yang pertama, adalah tabiat buruknya. yang kedua, s merasa mereka rasis. yang ketiga, mereka tidak kaya, hanya bermobil dibawah harga 200 juta. dan yang keempat, dua-duanya sering sekali terkena sumpah-serapah dari orang yang merasa mereka rendahkan. yang satu disumpah 'gak punya anak, dan yang satu disumpah 'gak laku'.

***

ada yang aneh, c dan e tetap tidak pernah merasa bersalah dengan hal-hal yang mereka perbuat, padahal satu dari mereka percaya hukum karma.

jadi, pelajaran apa yang kamu dapat dari kisah ini?

-kisah ini dipersembahkan untuk mbak dewi, semoga bisa tertawa.

s = semesta

Kebijakan Dan Perut

Suatu ketika pernah saya mendengar celetukan seorang kawan perempuan yang terkategori seperti sosialita #cantikpintarkayaraya karena berita yang ia baca, “anjrit, demo lagi-demo lagi, kampungan amat, bikin malu, naik seribu lima ratus doang aja sampe kaya gitu. masa ga bisa bayar..” dia ngomel sendiri.

pada saat itu saya hanya menggumam, “ya gapapa sih naik, kali aja kalau naik jalan ga bakal macet lagi..” #asalngomong

***

Ada beberapa hal yang bisa dinikmati oleh beberapa kalangan seperti makan tiga kali sehari meski harga beras atau minyak naik tiga ratus perak, bisa membeli baju di tanah abang atau zara meskipun dengan diskon sedikit, atau bisa update status di facebook dan sekedar bergalau ria di twitter. Terdengar sepele, tetapi pada kenyataannya hanya sepersekian persen penduduk di Indonesia yang bisa seperti itu.

Sadar kan ya, jika negara kita tercinta sedang pincang-pincangnya. Contohnya saya sendiri, saya bisa baca postingan teman-teman lewat tablet seharga lima juta sedangkan disudut kota, ada bapak tua yang berpikir lebih baik membeli makan daripada membeli koran.

Coba sekarang kita pergi ke kehidupan kuli tani, tukang sol sepatu, atau tukang ember yang biasa lewat didepan rumah. Bayangkan sebuah kelas dengan penghasilan 2000/hari sampai yang sesuai dengan UMR 40.000/hari -untuk makan saja mereka tidak terjamin. Kenaikan lima ratus rupiah bagi mereka adalah sebuah beban, apalagi kalau ada kenaikan merata komoditi gara-gara ulah bbm yang akan naik sebesar 30%?

Dan sialnya, masyarakat tersebut tidak pernah memiliki kekuatan untuk melakukan lobi, tidak cukup cerdas untuk berhimpun, dan tidak bisa apapun karena ujung-ujungnya -buat makan aja susah. Kalau seandainya bisa demo pun, paling ditanggapi hanya seminggu saja sesudahnya dilupakan lagi #pura-puralupa. Yang memiliki kekuatan seperti buruh pun hanya segelintir saja, karena mereka termasuk dalam serikat buruh, kenyataannya masih banyak buruh yang tidak tahu harus berbuat apa kalau diperlakukan semena-mena oleh perusahaan tempat ia bekerja.

***

Sedikit banyak, kalimat diatas mempengaruhi pola pikir dan sikap saya. Seberapapun galaunya saya, ternyata saya termasuk orang yang beruntung yang masih bisa memikirkan esok hari tanpa peduli rasa cemas uang akan habis karena beli ini-beli itu atau sederhananya saja, saya masih bisa makan.

Kalau berbicara mengenai kebijakan negara, cobalah berpikir untuk mereka yang sama sekali tak sanggup dan tak memiliki kekuatan untuk membela diri. Bukan apa-apa, tapi masih banyak orang diluar sana yang selalu bingung -habis ini beli beras gimana ya, bayar kontrakan gimana ya, anak mau sekolah gimana ya. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Saya cuma bisa jadi warga negara yang baik dan menjalankan tugas saya, salah satunya membayar pajak. Dan saya pun juga belum mumpuni untuk membuat kebijakan. Sehingga bagi mereka yang sudah bisa membuat kebijakan dan bertugas membuat kebijakan, mohon dibuat kebijakan yang tidak mencederai pihak manapun, terutama rakyat.

Itu saja.

*Takkan terjadi gerakan massa skala besar secara spontan, kalau saja kepentingan perut rakyat tidak diganggu.

Menguatkan Hati

” Yang harus kamu paham, Allah Yang Maha Bijaksana itu tidak pernah memberikan gunung yang tidak bisa kamu daki. Sekalipun kamu tak memiliki tali, kamu masih memiliki tangan untuk menggenggam.
Allah menyelesaikan masalahmu dengan cara dan kehendakNya dan karenanya engkau harus menyelesaikan masalahmu sesuai dengan porsi yang kamu punya.
Mengujimu hanyalah sebuah pertanda, Allah begitu memperhatikanmu. “

-daicy mahia-

kelapa gading. 14 desember 2012.

ditengah hujan, menguatkan hati. sendiri.

Hati dan Stock Opname

“Stock Opname adalah proses mekanisme kontrol terhadap arus masuk keluar barang, dimana dalam proses ini akan dilakukan perhitungan stok secara fisik untuk dicocokkan dengan stok yang terdapat di dalam sistem.

Jika terjadi perbedaan dalam stok, baik itu selisih lebih maupun selisih kurang, maka harus dilakukan penyesuaian dengan adjusment stock, jika terdapat kelebihan stok dipergunakan receive unplanned, jika kekurangan stock dipergunakan issue unplanned.”

Dua hari merasa lelah, dan di dua hari itu pula saya belajar. Belajar memahami bahwa benda mati saja memiliki harga yang begitu pantas, apalagi hati. Saya tidak pernah membayangkan kalau saatnya nanti yaumul mizan adalah serupa stock opname yang dilakukan oleh Allah SWT. Kebaikan dan keburukan bergumul ibarat stok yang keluar masuk didalam hati. Bila saat ini saya masih dapat melakukan adjusment terhadap kekurangan stok, apakah saat nanti saya bisa? Saat dimana semuanya menjadi harga mati. Tak ada lagi receive unplanned maupun issue unplanned, yang ada hanyalah lebih bernilai surga, dan bila kurang beroleh neraka.

Perhitungan hati merupakan harga mati. Manusia masih bisa memanipulasi data,  membohongi sesamanya, tetapi Rakib dan Atid tidak demikian adanya. Tak ada lagi kekuatan sangkalan, dan tak ada yang namanya malaikat berprofesi sebagai pengacara untuk membela kita. Maka tak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak berbuat kebaikan saat ini. Kebaikan yang tentunya bukan dilandasi karena rasa ingin dipuji, tetapi kebaikan yang dilandasi karena Allah Yang Maha Kuasa.

Kita tak akan pernah mampu berhitung. Karena perhitunganNya tak pernah berformula sama dengan metematika. Yang bisa kita lakukan hanyalah berbenah. Jadi marilah kita berbenah, selagi kita bisa..