The Good End


“For me, the good end is when you
really can deal with reality and..
yourself.”

-Daicy Mahia

Advertisements

Cerita dan Kata

hatiku terikat
seperti balon-balon udara
melayang
tapi tak dapat
lepas
.

padamu
ingin aku mengadu
.

cerita dan kata :

cerita dan kata, ingin menjelma jadi suara
cerita dan kata, ingin beradu utarakan rindu
cerita dan kata, ingin ada mendekap mesra
bukan menari di atas nelangsa.

Jatinangor, 22 Rabiul Akhir 1430 H.
7 April 2010.
mahia.

*sedikit cerita, puisi ini pernah mendapat apresiasi oleh Bapak Soni Farid Maulana..:)

—————————————————————————————————————————————–

Daicy Mahia D. Gingerika
http://daicymahia.multiply.com

Flightless Bird, American Mouth

Rating: ★★★★★
Category: Music
Genre: Soundtracks
Artist: Iron & Wine

I was a quick wet boy
diving too deep for coins

All of your street light eyes
wide on my plastic toys

Then when the cops closed the fair
I cut my long baby hair

Stole me a dog-eared map
and called for you everywhere

Have I found you
Flightless bird, jealous, weeping or lost you, american mouth
Big pill looming

Now I’m a fat house cat
Nursing my sore blunt tongue

Watching the warm poison rats
curl through the wide fence cracks
Pissing on magazine photos
Those fishing lures thrown in the cold
And clean blood of Christ mountain stream

Have I found you
Flightless bird, grounded, bleeding or lost you, american mouth
Big pill stuck going down

————

a great song

Tuhan Sayang Semua

שׁיר המעלות לדוד הנה מה־טוב ומה־נעים שׁבת אחים גם־יחד

(Hine ma tov u’manayim shevet akh-im gam ya-khad)
Behold, how good and how pleasant it is for brothers to dwell together in unity!

Saya seorang Islam. Setahu saya, Tuhan tidak mengajarkan bahwa ‘saudara’ itu terbatas. Konsep Islam tentang ‘saudara dan sesama’ yang saya pahami adalah suatu ke-kita-an (inclusive we) dan bukan ke-kami-an (exclusive we).

Dan entah mengapa, terkadang saya malu dengan keberadaan saya sendiri. Ataupun malu melihat ‘saudara-saudara’ saya diluar sana. Malu dengan apa yang mereka lakukan. Malu dengan apa yang mereka tampilkan.

Konsep ‘saudara’ yang saya pahami mengajarkan bahwa Tuhan sayang semua. Tidak peduli dia Yahudi atau Yunani, Jawa atau Tionghoa, ibu negara atau pelacur, straight atau gay -semua berharga di mata Tuhan.

Sangat disayangkan dalam perkembangannya, orang kembali membangun tembok pemisah yang sudah didobrak oleh konsep ini. Yang terjadi selanjutnya adalah kelompok-kelompok yang merasa diri paling benar dan terbeban untuk ‘meluruskan’ yang lain. Bila pihak yang lain menolak untuk diluruskan, makan perselisihan timbul. Ujung-ujungnya, people do not really get along.

Memberitahukan apa yang kita yakini benar kepada saudara kita tidaklah salah. Namun bila saudara kita tidak menganggap apa yang kita yakini itu benar, bukankah dia tetap saudara kita? Bukankah perbedaan pandangan tidak seharusnya memutus persaudaraan? Lagipula, who am I to judge you?

Saya yakin kalau situasi akan lebih baik jika kita semua bisa hidup bersama dengan rukun. Saya mendambakan sebuah situasi di mana orang hidup harmonis tanpa sibuk saling menghakimi satu sama lain.

Hanya Tuhan Yang Mahatahu dan lebih tahu segala sesuatu dari pada kita. Hanya Tuhan Yang Mahabenar dan pemilik kebenaran mutlak. Tuhan Sang Absolut.

Dan tentunya saya sangat meyakini satu hal, Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Tidak memaksa, pun tidak menyiksa. Islam itu agama semesta. Maka berpikirlah!

Tulisan saya ini pun tidak mutlak benar karena saya hanya manusia, tempatnya salah dan lupa.

Allahu a’lam.

—————————————————————————————————————————————–

Daicy Mahia D. Gingerika
http://daicymahia.multiply.com